Aku, Kamu, Kita Semua Satu
Assalammu’alaikum Wr. Wb.
Halo, perkenalkan nama saya Hasna Jihan Khairunnisa. Saya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, program studi Hubungan Internasional. NIM saya 225120401111031. Disini, saya akan membuat esai toleransi beragama guna memenuhi penugasan Raja Brawijaya 2022. Toleransi, apa sih toleransi itu? Menurut wikipedia, Toleransi atau Toleran secara bahasa kata ini berasal dari bahasa latin tolerare yang berarti sabar membiarkan sesuatu yang dianggap menyimpang atau salah dengan batasan tertentu. Pengertian toleransi secara luas adalah suatu perilaku atau sikap manusia yang "tidak menyimpang dari hukum berlaku" disuatu negara, dimana seseorang menghormati atau menghargai setiap tindakan yang dilakukan orang lain selama masih dalam batasan tertentu. Ketika saya mendengar kata Toleransi, hati saya terenyuh. Karena menurut saya, kata ini mudah untuk dilafalkan tetapi sulit untuk diterapkan. Bagi kita masyarakat Indonesia yang hidup di suatu negara letaknya diapit dua benua dan dua samudera. Negara yang memiliki luas wilayah 1.904.569 km2, negara yang memiliki 17.504 pulau, 270.203.917 jiwa (pada tahun 2020), dan negara yang memiliki 6 agama serta beribu-ribu kepercayaan. Sebenarnya fakta-fakta yang Indoensia miliki tidak hanya itu, masih banyak lagi. Tetapi dari situ saja, kita tahu bahwa sejak kita kecil bahkan sejak zaman penjajahan Indonesia memang sudah terdiri dari beragam hal. Hal ini, yang menurut saya justru membuat Indonesia unik. Hal ini, yang justru membuat Indonesia dilirik oleh wisatawan mancanegara. Kalau boleh berpendapat, saya justru kebih senang berteman dengan teman-teman yang berbeda dengan saya. Karena saya justru merasa lebih hidup dalam suatu perbedaan. Saya hidup di keluarga yang sejak kecil, saya diajarkan untuk menerima perbedaan. Apapun itu, saya tidak boleh mencelanya. Keluarga ayah dan ibu saya saja, menganut 2 agama yang berbeda. Kristen protestan dan Muslim. Hal ini yang membuat saya sejak kecil belajar banyak tentang perbedaan. Dulu, ketika saya berumur 5 tahun saya diajak ke gereja pertama kali dengan nenek saya. Saya merasa asing, karena tempat itu adalah tempat baru. Tempat yang belum pernah saya kunjungi/saya lihat sebelumnya. Masih ingat sekali, momen itu padahal sekarang saya sudah berusia lebih dari 18 tahun. Oh iya, saya beragama Islam sejak lahir. Ayah saya yang memberi adzan kepada saya ketika pertama kali menghirup udara di dunia.
Ketika saya berinjak dewasa, banyak hal yang saya pertanyakan. Khususnya mengenai agama. Apalagi, saya orangnya selalu kepo dengan semua hal. Hal ini bermula ketika saya menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama. Semakin tinggi pendidikan kita, akan semakin banyak hal yang kita pertanyakan. Dulu, saya menganggap teman yang berbeda agama hanyalah “Oh, berarti dia tidak shalat. Pasti mereka ibadah hanya hari Minggu di gereja”. Ternyata, paham saya salah. Tidak hanya kita sebagai muslim yang wajib beribadah lima kali sehari. Teman-teman saya yang beragama non muslim, Kristen Protestan misalnya. Ia beribadah tidak hanya pada hari Minggu. Tetapi ia ada doa renungan pagi, renungan malam, dan masih banyak lagi. Saat itu saya sadar bahwa pemahaman saya tentang agama lain masih kurang. Ya, saya belum menjadi seorang umat muslim yang taat. Tetapi saya tidak ingin menutup pengetahuan saya tentang agama-agama lain. Terlebih, kakak kandung saya sendiri seorang Nasrani. Jadi saya juga belajar banyak dari beliau. Bukan berarti saya ikut mempelajari agama Kristen, tetapi saya diajari bahwa seorang Muslim dan Nasrani sebenarnya sama. Agama kita memiliki satu tujuan, yaitu untuk berdoa untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun melalui cara yang berbeda, ajaran yang berbeda, kitab yang berbeda, dan juga larangan serta kewajiban yang berbeda. Dari perbedaan ini, saya juga amat sangat belajar banyak tentang mengerti, memahami, dan menahan diri tentang apa yang kita mau. Saat hendak kumpul dengan teman/keluarga, misalnya. Biasanya kita akan melakukan pertemuan di hari Minggu karena di hari itu cenderung banyak yang senggang karena hari libur. Tetapi kadang kita lupa, banyak saudara-saudara kita yang sedang ibadah di hari itu. Jadi, sebagai umat yang memiliki jiwa toleransi kita harus sabar dan memahami. Menyesuaikan jadwal mereka, adalah solusinya.
Oh iya, setiap agama yang kita anut pasti memiliki hari-hari besar sesuai dengan ketepatan masanya. Di hari besar itu pula, menurut saya ketika kita merayakannya umat yang beragama lain harus mengerti dan memahami. Bukan berarti ikut merayakan, tetapi ikut menghormati serta tidak mengganggu. Hal itu berlaku untuk kita pula, ketika saudara-saudara kita merayakan hari besarnya kita harus menghormati. Dalam ajaran agama kita, seorang Muslim tidak dianjurkan untuk memberi ucapan selamat di hari besar mereka. Pada saat natal, misalnya. Banyak saudara-saudara muslim yang cenderung tidak peduli dan membiarkannya. Padahal, saudara-saudara Nasrani pada saat kita merayakan Idul Fitri justru turut serta membantu dan banyak yang ikut merayakannya. Dari situ, saya menyimpulkan walaupun berbeda agama kita seorang muslim tidak wajib merayakannya, tetapi kita bisa turut serta memberi ucapan yang baik. Menjadi seorang Muslim, menurut saya bukan berarti harus buta dengan ajaran agama-agama lain. Saya pribadi, saya tidak ingin menutup telinga dan menutup hati untuk melakukan sesuatu hal walaupun tidak untuk sesame orang yang beragama dengan saya. Yang terpenting kita tetap melakukan kewajiban kita seorang muslim, tidak berbuat hal yang keji, dan tidak melakukan suatu dosa yang berat.
Suatu waktu, ketika saya melihat kakak saya berdoa ada sisi yang saya pertanyakan. Ada hal yang menyentuh hati saya. “Apakah saya se-khusyuk itu? Bagaimana bisa ia melakukan ibadah dengan sepenuh hati, selalu tepat waktu, dan mengutamakan agama? Siapa saya, darimana saya berasal, mengapa kadang saya masih menomor duakan shalat?”. Saya banyak dosa. Saya belum bisa melakukan kewajiban saya dengan baik. Perlakuan saya masih jauh dari kata seorang muslim yang taat. “Apakah saya bisa berubah menjadi umat yang lebih baik?” sampai detik ini, pertanyaan ini masih selalu berputar di kepala. Karena saya insecure dengan kakak serta teman-teman saya yang berbeda agama, tetapi lebih khusyuk dan taat. Saat ini, ketika saya bersama dengan teman/saudara yang berbeda agama, banyak hal yang saya amati. Banyak hal yang saya harus mengerti serta pahami. Mengerti untuk tidak boleh memaksakan suatu hal yang tidak dilakukan agamanya, mengerti untuk tidak mengejek/menyinggung suatu hal tentang agamanya, dan paham bahwa kita harus menjaga perasaannya. Perasaan ini, tidak semua orang memilikinya. Tapi saya yakin, banyak yang memiliki simpati serta toleransi terhadap teman-teman yang berbeda. Karena, saya selalu percaya bahwa orang-orang di Bumi itu baik. Walaupun tidak semuanya terlihat jelas, walaupun banyak yang masih melakukan hal yang kurang tepat, tapi waktu itu akan dating. Waktu ketika ia sadar bahwa setiap manusia harus saling memahami dan berbuat baik. Semua itu, harus kita mulai dari diri kita sendiri. Sekarang, atau tidak sama sekali.
Sekian esai dari saya, mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan. Terima kasih.
Wassalammu’alaikum Wr. Wb.
Komentar
Posting Komentar